Di sepanjang kehidupannya, anak pasti akan banyak menghadapi suatu hal yang baru. Akan ada momen pertama bagi anak untuk memulai dan menghadapi sesuatu, seperti masuk sekolah, bertemu teman, atau mencoba aktivitas maupun makanan yang baru. Bahkan, kemungkinan juga ada perubahan besar seperti pindah rumah, memiliki adik, atau kehilangan anggota keluarga. Bagi sebagian anak, berbagai perubahan ini dapat mudah terlewati. Akan tetapi, bagi sebagian anak lainnya, perubahan ini bisa merupakan suatu ‘bencana yang besar’.
Mengapa perubahan bisa terasa menakutkan bagi anak, dan bagaimana mengenali tanda-tandanya?
Apakah Pion Parents tahu bahwa otak manusia—dewasa maupun anak—cenderung menyukai sesuatu yang pasti dan familiar? Penjelasannya karena hal tersebut membuat seseorang merasa aman dan nyaman. Sangat bertolak belakang apabila seseorang mengalami suatu perubahan. Perubahan terasa menakutkan karena terdapat ketidakpastian, pola yang belum terbentuk, dan berbagai stimulus yang perlu diproses. Hal ini bisa membuat kewalahan, bingung, bahkan memicu kecemasan, terutama pada anak-anak yang sensitif. Jadi, kalau anak cenderung mudah merasa gelisah, khawatir, dan tegang, sebaiknya perlu ada cara khusus untuk mendampinginya di sepanjang proses adaptasinya ya, Pion Parents.
Bagaimana cara menjelaskan perubahan kepada anak sesuai dengan usianya agar ia tidak merasa cemas atau bingung?
Perubahan dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan dapat memicu perilaku yang menantang. Perasaan cemas atau bingung saat menghadapi perubahan merupakan hal yang wajar, terutama anak-anak usia dini yang belum banyak pengalaman adaptasi. Akan lebih baik apabila orang tua menjelaskan perubahan disertai dengan sentuhan fisik yang membuat anak lebih tenang, seperti memeluk, mencium, memangku, mengusap kepala, atau berpegangan tangan. Kemudian, penjelasan mengenai perubahan tidak perlu dengan penjelasan panjang. Untuk anak-anak yang lebih besar, misal usia SD, orang tua sudah mulai dapat lebih banyak berdiskusi dengan penjelasan panjang terkait perubahan tersebut. Untuk remaja, orang tua dapat berbagi pengalaman pribadi saat menghadapi suatu perubahan.
Seberapa penting rutinitas dalam membantu anak merasa lebih aman selama masa transisi?
Rutinitas merupakan pola yang teratur dan berulang. Hal ini dapat menyediakan sesuatu yang pasti dan familiar, sehingga seseorang akan lebih merasa aman. Sebelum anak menjalani suatu perubahan, orang tua perlu membentuk rutinitas anak yang sesuai dengan perubahan tersebut. Misalnya, saat ini anak terbiasa bangun jam 8 pagi, sementara jam masuk sekolah nantinya akan jam 8 pagi. Diharapkan beberapa bulan sebelum sekolah, terdapat ‘masa transisi’ untuk mengubah jam bangun anak (bahkan tidur juga) secara perlahan. Masa transisi bertujuan agar anak memiliki waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan baru.
Apabila suatu rutinitas berhasil terbentuk, anak akan merasa semakin aman dan mampu memegang kendali atas dunia mereka. Rutinitas akan mengimbangi pola yang tidak pasti dari suatu perubahan, sehingga semakin kecil kemungkinan anak akan kewalahan dengan hal-hal yang baru. Diharapkan orang tua dapat menjadi 'jembatan' agar anak dapat membangun hubungan dan kepercayaan dengan orang atau lingkungan baru.
Bagaimana orang tua dapat membangun rasa percaya diri anak agar lebih siap menghadapi perubahan?
Selain membentuk rutinitas, hal yang bisa dilakukan Pion Parents sebagai orang tua (atau figur lain yang dekat dengan anak) adalah:
Orang tua dapat memberikan informasi dan menjelaskan perubahan tersebut secara perlahan. Misalnya, saat akan mengikuti les yang baru, anak dapat diinformasikan lebih awal tentang aktivitas-aktivitas apa saja yang akan dilakukan dan siapa saja anak akan berinteraksi. Sebelum hari pertama les, orang tua dapat mengajak anak untuk mengunjungi tempat les lebih dulu dan menunjukkan berbagai ruangan maupun fasilitas. Semakin mendapatkan gambaran dan informasi yang penuh dengan kepastian, kecemasan anak dapat menurun hingga tiba waktunya masuk les.
Anak dapat membawa mainan atau benda favoritnya sebagai objek transisi. Objek transisi adalah benda yang memberikan kenyamanan dan keamanan psikologis selama masa perubahan. Benda ini mengingatkan anak bahwa mereka aman, bahkan saat mereka terpisah dari orang tuanya. Objek transisi juga dapat berupa karya seni yang dibuat orang tua bersama anak, misalnya gelang yang serupa atau gantungan kunci dengan gambar favorit.
Anak dapat dikenalkan skala emosi 5 poin untuk mengukur tingkat keparahan perubahan yang dialaminya. Hal ini dapat membantu meningkatkan komunikasi yang jelas antara orang tua dan anak, kesempatan anak untuk mengekspresikan perasaan mereka, dan memberi anak kendali atas situasi mereka. Memberikan anak sedikit kendali atas situasi yang berubah dapat membantu anak merasa lebih terlibat dalam pengambilan keputusan.
Apa strategi komunikasi yang bisa digunakan agar anak lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya?
Anak memerlukan ruang dan kesempatan untuk memproses segala perubahan yang dialaminya. Orang tua dapat membimbing anak dengan cara memvalidasi dan mendiskusikan segala perasaan anak secara terbuka tanpa menghakimi. Terima rasa cemas, bingung, takut, dan frustrasi anak dengan menyebutkan nama emosi berikut situasinya, misalnya, “Adik tadi takut/cemas ya harus salam banyak orang baru?”. Selain itu, tidak perlu mencecar anak dengan berbagai pertanyaan dan nasihat, karena anak akan semakin tertutup dan menarik diri.
Apa yang bisa dilakukan jika anak terus-menerus menolak atau merasa sangat sulit beradaptasi?
Pasti hal ini sangat melelahkan ya, Pion Parents. Rasanya jadi semakin bingung, frustrasi, bahkan putus asa. Jika Pion Parents kesulitan menerapkan strategi di atas dan mengendalikan masalah ini hingga memengaruhi fungsi sehari-hari, lebih baik lakukan konsultasi dengan psikolog, ya.
Perlu diingat bahwa setiap kesulitan adaptasi yang dialami anak berguna sebagai bekal kehidupan anak untuk terus bertumbuh. Tidak hanya anak, namun kita sebagai orang tua pun turut bertumbuh. “Parenting is a journey of learning and growing together, and the best part is that your child will be your greatest teacher.”
Referensi
Helping Hands Psychology for Children with Additional Needs Team at Aneurin Bevan University Health Board (ABUHB). (n.d.) Supporting Your Child’s Transitions. Diakses pada https://www.sparkleappeal.org/ckfinder/userfiles/files/policies-and-resources/Childrens-Centre-Psychology-resources/Supporting-Your-Childs-Transitions.pdf
Kaiser, E. (2024). 6 Tips on How To Help Kids Adapt To Change. Diakses pada https://betterkids.education/blog/6-tips-on-how-to-help-kids-adapt-to-change
Simperingham, G. (n.d.) Helping Children Adapt to Change. Diakses pada https://www.peacefulparent.com/helping-children-adapt-to-change/
Teleková, R., Muziková, K. & Marcineková, T. (2024). The Family in the Support System for the Child´s Smooth Transition to Primary School and the Successful Adaptation. TEM Journal. Volume 13, Issue 4, pages 3086-3091, ISSN 2217-8309, DOI: 10.18421/TEM134-43
Vogler, P., Crivello, G., & Woodhead, M. (2008). Early childhood transitions research: A review of concepts, theory, and practice (Working Paper 48). Bernard van Leer Foundation.