Mengenal Premarital Counseling Untuk Persiapan Pernikahan Yang Lebih Matang

13 Feb 2026, 17:00 WIB
Author: Klarinthia Ratri, M. Psi., Psikolog
persiapan pernikahan pasangan relasi romantis
mengenal-premarital-counseling-untuk-persiapan-pernikahan-yang-lebih-matang
                

Ditulis oleh : Klarinthia Ratri, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis Dewasa PION Clinician)

Hi Pioneers, adakah yang sedang mempersiapkan pernikahanmu saat ini? Sebelum melangkah ke pernikahan, sangat penting bagi pasangan untuk membicarakan berbagai hal mendasar agar hubungan memiliki fondasi yang kuat dan lebih siap memasuki jenjang pernikahan. Beberapa topik penting yang sebaiknya dibahas antara lain:

  1. Perbedaan dan Persamaan dalam Diri
    Menyadari kepribadian, kebiasaan, dan gaya hidup yang serupa maupun berbeda akan membantu pasangan memahami potensi harmoni sekaligus area yang mungkin menimbulkan konflik dalam hubungan.
  2. Gaya Komunikasi dan Resolusi Konflik
    Menyepakati cara berkomunikasi dan penyelesaian konflik yang paling sesuai bagi pasangan.
  3. Latar Belakang Keluarga
    Membicarakan pola asuh, pengalaman masa kecil, dan dinamika keluarga asal yang dapat memengaruhi pembentukan diri sendiri, serta berpotensi memengaruhi hubunganmu dan pasangan ke depannya. 
  4. Nilai-Nilai yang Dipegang
    Mendiskusikan dan menyelaraskan nilai-nilai yang dianggap penting oleh kedua belah pihak. Hal ini dapat meliputi agama, relasi dengan keluarga besar, pengasuhan anak, pekerjaan dan keuangan, dan masih banyak lagi.
  5. Tujuan Hidup dan Cita-Cita Bersama
    Penting untuk berbicara tentang tujuan yang ingin dicapai, baik sebagai individu maupun sebagai pasangan. 

Diskusi tentang hal-hal mendasar ini akan membantu pasangan lebih siap menghadapi dinamika pernikahan, termasuk salah satu isu yang paling sering muncul: ekspektasi keluarga besar. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan pasangan dalam menghadapinya:

  1. Bangun Kesepakatan dan Kesepahaman dengan Pasangan: Pasangan adalah tim utama dalam pernikahan. Diskusikan bersama apa yang menjadi prioritas, batasan, dan cara menghadapi perbedaan harapan dari keluarga besar.
  2. Mengkomunikasikan dengan Asertif dan Sopan: Mengkomunikasikan pendapat ke keluarga besar dengan jelas dan sopan, serta bersedia mendengarkan pandangan keluarga. 
  3. Membangun Batasan Sehat: Menyepakati dengan pasangan sejauh mana peran keluarga dalam penyusunan pernikahan yang akan dijalani serta konsisten dalam memberlakukan batasan tersebut.

Selain isu keluarga, diskusi juga berfungsi untuk mengenali potensi konflik yang mungkin muncul dari dalam hubungan itu sendiri. Berikut beberapa cara untuk melakukannya: 

  1. Observasi: Mengobservasi hal-hal apa saja yang seringkali menjadi sumber konflik dalam hubunganmu: apakah ada hal yang serupa atau tema besar dari konflik-konflik tersebut? Misalnya seringkali bertengkar karena perbedaan nilai tentang pertemanan/keluarga. 
  2. Dialog Terbuka: Membuat dialog terbuka serta ruang yang aman untuk mendiskusikan konflik-konflik yang pernah dimiliki.
  3. Ekspektasi: Menyamakan ekspektasi dalam hubungan yang akan dijalani. 

Meskipun sudah melakukan cara-cara ini, ingatlah bahwa tidak semua konflik bisa diantisipasi. Akan ada banyak hal yang berada di luar ekspektasi kita. Akan ada banyak hal-hal yang tidak berada di luar dari ekspektasi kita. Maka, sangatlah penting untuk pasangan konsisten mengutamakan terbentuknya ruang yang aman untuk komunikasi terbuka dalam setiap tantangan dan konflik. 

Selain antisipasi isu atau konflik dalam hubungan, diskusi dengan pasangan sebelum memasuki pernikahan juga sangat penting untuk mengetahui “peta jalan” Pioneers sebagai pasangan. “Peta jalan” yang dimaksud adalah gambaran visi dan misi hubungan yang ingin dijalani, serta tujuan yang ingin dicapai dalam hubungan pernikahan. Untuk mencapai hal ini, beberapa hal yang bisa dilakukan bersama:

  1. Komunikasi terbuka untuk menyelaraskan nilai dan tujuan yang ingin dicapai. 
  2. Proses penerimaan bahwa perubahan “perjalanan” dari “peta jalan” yang sudah ditentukan adalah hal yang lumrah terjadi.
  3. Tentukan hal-hal yang menjadi limitasi bagi kedua belah pihak. Dalam hal ini, meskipun akan ada perubahan-perubahan di kedepannya, ada hal-hal utama dan mendasar yang akan selalu dijaga, tidak berubah, dan sesuai dengan nilai yang diprioritaskan. 

Tentunya proses diskusi, pemahaman diri, penyelarasan, dan kompromi ini tidaklah mudah. Maka, konseling premarital dengan asesmen yang menyeluruh berperan untuk membantu setiap pasangan yang ingin memperkuat fondasi ini sebelum memasuki jenjang pernikahan. Salah satu asesmen yang menyeluruh disebut Prepare/Enrich. 

Asesmen seperti Prepare/Enrich dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai diri sendiri, dinamika hubungan, serta pengaruh latar belakang keluarga terhadap relasi yang dijalani. Hasil asesmen ini menjadi dasar bagi pasangan untuk memahami perbedaan dan persamaan yang dimiliki, mengenali kekuatan hubungan, sekaligus melihat area yang masih bisa dikembangkan sebagai upaya mengantisipasi konflik dalam pernikahan. Melalui proses ini, Pioneers dapat lebih mengenali pasangan dan kualitas hubungan yang dijalani, sekaligus memiliki arah yang lebih jelas dalam membangun kehidupan bersama.

Pada akhirnya, kesiapan pernikahan bukan hanya tentang siap merayakan hari bahagia dengan berbagai acara, tetapi juga tentang kesiapan membangun kehidupan bersama. Dengan saling mengenal lebih dalam, berdialog tentang hal-hal mendasar, menentukan tujuan, serta memanfaatkan asesmen yang tepat, pasangan dapat melangkah ke jenjang pernikahan dengan fondasi yang lebih kokoh.

Author: Klarinthia Ratri, M. Psi., Psikolog
Editor: Klarinthia Ratri, M. Psi., Psikolog
Shares
×